Diposkan pada Cerpen

Sebutir Pasir #2

Sebelumnya….

“Namun ketahuilah, ada satu hal kecil yang pernah membuat saya takut!” setelah jeda sejenak, sambil matanya menerawang seakan menembus kejadian saat peristiwa yang senyatanya terjadi, diapun melanjutkan, “Anda ingin tau apa yang saya takutkan? Bukan gunung yang tinggi, semak berduri, binatang buas dan liar di liar sana, atay tebing bahkan jurang yanv curam, tetapi….. sebutir pasir! Begini ceritanya. Pada suatu perjalanan pendakian beberapa tahun silam, karena kelalaian saya, entah bagaimana, sebutir Pasir diam-diam di kaos kaki yang saya kenakan dan masuk ke sela-sela kuku. Mungkin karena faktor kelelahan dan konsentrasi pada terjalnya medan sehingga tanpa disadari, Pasir kecil yang hampir tidak tampak itu telah membuat jari kaki saya akhirnya menjadi bengkak, terinfeksi dan nyaris di diamputasi. Setelah melewati pengobatan yang intensif, untunglah kaki ini masih bisa berfungsi seperti sediakala. Hampir saja saya tidak bisa lagi menggunakan kaki yang menjadi modal utama dalam kesenangan saya mendaki sejak saat itu, saya tau, penghalang kesuksesan bukan pada gunung yang tinggi tetapi pada hal yang remeh yang tidak kita sadari dan terabaikan, yakni sebutir pasir yang seakan tidak tampak di mata. Hal itu membuat saya harus selalu waspada dan berhati-hati di setiap kegiatan yang saya lakukan sebelum memulai melangkah menuju pendakian berikut nya agar tidak terulang lagi pengalaman pahit seperti itu.

Diposkan pada Cerpen

Sebutir Pasir #1

Dikisahkan, ada seorang pendaki gunung yang sangat terkenal karena kemampuan nya menaklukkan hampir semua gunung tertinggi di berbagai negara. Dia terkenal dengan keberanian nya mengambil rute pendakian yang sulit dan menantang, fisik yang prima dan kesiagaan stamina serta mentalitas yang kuat dalam mengahadapi segala macam resiko. Kecintaan nya kepada lingkungan hidup juga mengundang penghargaan dari berbagai organisasi baik di dalam maupun di luar negeri.

Dalam sebuah konferensi pers yang di hadiri dari berbagai macam media baik cetak maupun elektronik. Setelah penghargaan yang kesekian kali di terimanya, si si reporter mengajukan pertanyaan, “Tuan, seluruh anak negeri ini begitu bangga dengan keberhasilan yang telah anda capai. Anda terkenal dengan keberanian dan kehebatan anda menghadapi marabahaya dan mampu mengatasinya dengan dengan selamat hingga kepuncak gunung dan kembali lagi. Yang ingin kami tahu, apakah anda tidak mengenal rasa takut? Dan bila ada, apa yang anda takuti?”

Si petualang pun menjawab, “Saya berterima kasih, menghargai dan bersyukur bahwa apa yang telah saya kerjakan selama ini ternyata telah mendapat perhatian oleh banyak pihak sehingga begitu banyak penghargaan telah diberikan kepada saya. Memang saya akui, menaklukkan setiap gunung adalah tantangan yang tidak bisa saya lewatkan. Di setiap pendakian ada banyak hal yang telah saya hadapi, di antara berbagai macam binatang buas, semak belukar dan bebatuan, jurang dan bukit yang curam, semua itu bukanlah hal menakutkan buat saya”.

selanjutnya….

Diposkan pada Cerpen, Gabut ku bermanfaat

Give Your Self a Chance

Cerita Sebelumnya…

Suatu ketika, sambil menghela napas panjang sembari menggengam tangan anaknya, dengan suara lemas si ibu berkata, “Anakku, ibu telah kehilangan anak-anak ibu.”

“Tidak, Bu. Masih ada aku, Bu,”ujar si kakaksambil terisak.

“Ibu tahu kamu ada secara fisik, tetapi seperti tidak ada. Sejak adikmu pergi, juwamu seakan ikut dibawa pergi. Apa yang tesisa untuk kami, ayah dan ibumu?” ujar si ibu sembari mengusap lembut tangan anakny. “Sejak peristiwa itu, kamu seperti tidak pernah ada lagi di rumah ini.”“Rumah ini terasa mati tanpa semangat lagi. Nak, ibu tahukamu sangat menyayangi adikmu, tetapi dia telah pergi untuk selamanya. Caramu menghukum diri, tidak akan mengembalikan adikmu lagi, bahkan membuat ayah dan ibu bersedih. Ibu rasa, cukup sudah dukamu. Masih ada kami, ayah dan ibumu yang sangat  menyayangimu dan membutuhkanmu.” Ucap si ibu memohon sambil mengusap lelah mata tuanya.

Rumah ini terasa mati tanpa semangat lagi. Nak, ibu tahukamu sangat menyayangi adikmu, tetapi dia telah pergi untuk selamanya. Caramu menghukum diri, tidak akan mengembalikan adikmu lagi, bahkan membuat ayah dan ibu bersedih. Ibu rasa, cukup sudah dukamu. Masih ada kami, ayah dan ibumu yang sangat  menyayangimu dan membutuhkanmu.” Ucap si ibu memohon sambil mengusap lelah mata tuanya.

Sambil terisak si anak berkata “Maafkan ananda, Bu. Ananda bersalah. Tanpa di sadari, selama ini ananda telah membuat ibu dan ayah bersedih. Kepergian adinda dengan cara seperti itu sungguh telah melumpuhkan setengah jiwa anada. Bunda jangan bersedih lagi. Ananda berjanji akan mengubah pola piker dan sikap selama ini. Ananda akan berusaha kembali seperti dulu dan membahagiakan ayah dan ibu. Sekali lagi maafkan Ananda bu. Cepet sembuh, Bu ananda akan buktikan bahwa ananda masih anak ibu yang dulu.”

Mendengar janji tulus yang diucapkan si kakak, ibu pun segera menarik tubuh anaknya dan mereka pun berpelukan dalam keharuan.

Memberikan kesempatan pada diri sendiri

Diposkan pada Cerpen, Gabut ku bermanfaat

Give Your Self a Chance

Suatu hari, di tepian sebuah sungai, tampak dua orang kakak beradik sedang bercanda dengan riangnya. Tiba-tiba, karena kurang hati-hati, tanpa disengaja, si adik terjatuh ke dalam sungai yang cukup dalam. Celakanya, di antara mereka berdua tidak ada yang bisa berenang. Karena itu, sambil berteriak-teriak ketakutan, si kakak  meminta tolong ke sekeliling tempat itu. Tetapi karena kebetulan tempat itu sepi , pertolongan pun datang terlambat. Karenanya , si adik akhirnya tenggelam dan meninggal dunia.

Kedua orangtuanya, sanak saudara serta orang-orang di sana, walaupun merasa berduka karena meniggalnya si adik, tetapi mereka tidak menyalahkan si kakak. Mereka menerika musibah dengan lapang dada dan menganggap bahwa semua itu sudah suratan takdir  Yang Maha Kuasa. 

Namun, si kakak belum bisa menerima kejadian itu. Sejak kecelakaan itu terjadi, dia berubah menjadi anak yang pemurung dan penyendiri. Dia tidak berani dan malu menghadapi orang-orang karena hati dan perasaannya senantiasa didera perasaan bersalah. Setiap hari dia sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Si kakak merasa bahwa karena dirinyalah adik yang sangat disayanginya meniggal. Sebagai kakak, ia merasa tak bisa menjaga adiknya sendiri sehingga peristiwa itu sangat membebani pikirannya.

Walaupun orang-orang di sekelilingnya telah berusaha memberi pengertian bahwa kejadian itu adalah sebuah kecelakaan dan dia bukanlah seorang pembunuh, tetapi tertap saja si kakak merasa sangat berdosa. Ia tak henti menyalahkan dirinya atas peristiwa itu.

Hingga suatu hari, ibunya sakit dan terbaring lemah di ranjang . saat itu, si kakak setia menemani, melayani, dan memberi perhatian kepada ibunya. Sebab,ia dipenuhi rasa takut akan kehilngan lagi orang yang disayanginya.

Memberikan kesempatan pada diri sendiri

Untuk cerita selanjutanya Klik ini…..

Diposkan pada Cerpen, Gabut ku bermanfaat

Aku Yang Salah (Part II)

Cerita sebelumnya….

Setibanya di rumah keluarga berikutnya, si pejabat dipersilahkan duduk dengan sopan di ruang tamu yang sejuk. Dari tempat duduknya, terlihat seorang pemuda sedang mengepel lantai dengan tekun. Saat melihat ada tamu datang, segera di hentikan kegiatan nya. Ia menghampiri sejenak dan dengan ramah menyapa si pejabat. Dari arah yang berlawanan, tiba-tiba seorang pemuda yang melintas dengan cepat sambil tangannya masih sibuk melihat buku yang sedang dibacanya tanpa melihat lantai yang masih basah, dan…”Gubrak!!” suara keras di susul suara mengaduh pun terdengar. Si pemuda rupanya terpeleset dan jatuh terlentang.

Sambil berseru kaget, tergopoh-gopoh si pemuda yang masih memegang tongkat pengepel, menghampiri dan berusaha membantu orang yang terjatuh untuk berdiri sambil berkata,” Aduh maaf, maaf ka, aku yang salah, aku yang salah. Aku engga cepet-cepet ngepel nya, lantai basah yang membuat kaka terpeleset. Dimana yang sakit, kak?

Sambil meringis menahan sakit, si kaka yang terjatuh menerima uluran tangan adik nya sambil berkata, “Bukan, bukan salahmu, Dik. Aku ko yang salah, jalan terburu-buru dan engga ngeliat kalo lantai nya masih basah. Tidak apa-apa. Teruskan saja ngepel nya”. Dia pun segera bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan tamunya.

Menyaksikan peristiwa di hari yang sama di dua keluarga yang berbeda, si pejabat sontak mengerti mengapa keluarga yang sedang di kunjungi nya ini begitu disanjung oleh orang-orang di sekitar sana. Rukun, santun, kompak, dan saling menyayangi satu sama lain. Entah apa yang salah, satu sama lain saling mendahului untuk meminta maaf, tidak berusaha mencari kesalahan yang lain, dan membenarkan dirinya sendiri. Sungguh mengagumkan. Di dalam hati sang pejabat membatin, inilah salah satu keluarga yang pantas menghadap ke Baginda raja untuk menerima penghargaan sebagai keluarga teladan ke istana kerajaan.

Sekian dan terimakasih

semoga bermanfaat bagi kita semua

Diposkan pada Cerpen, Gabut ku bermanfaat

Aku Yang Salah (Part I)

Suatu hari, di sebuah kerajaan, sang raja hendak memberikan penghargaan kepada keluarga yang bisa dijadikan teladan di wilayahnya. Karena itu, ia mengutus pejabat untuk mencari siapa saja keluarga yang layak mendapatkan penghargaan tersebut. Sang pejabat pun segera menunaikan tugasnya.

Dari sekian banyak informasi yang di dapatnya, sang pejabat pun segera mendatangi satu per satu keluarga yang di anggap layak untuk mendapatkan kehormatan dari sang raja. Salah satunya, sang pejabat mendatangi sebuah rumah Besar. Di sana, tinggal keluarga besar yang cukup terpandang. Sayangnya, mereka terkenal berperangai keras, lugas, dan tidak kenal kompromi. Dari rumah besar nan megah tersebut Sering terdengar percekcokan di antara anggota keluarga. Terkadang hal-hal sepele pun bisa menyulut kemarahan, mendatangkan pertengkaran bahkan tidak jarang berakhir baku hantam.

Saat si pejabat masuk ke rumah dan belum lama duduk, dari dalam tiba-tiba terdengar suara “prang!” Bunyi gelas pecah tersebut kemudahan di susul teriakan suara dengan nada keras, “Hai! Matamu taruh dimana, Goblok bener sih, gelas diam begitu maen disenggol aja!” Teriakan balasan pun segera bersambut, “Siapa suruh naro gelas sembarang di situ. Kalo gelasnya engga di taro di situ, pasti ga bakal ke senggol. Dasar ga punya otak!” Begitu seterusnya, satu sama lain saling mengalahkan dengan nada tinggi, tanpa ampun, dan masing-masing mau menang sendiri.

Mendengar kata-kata kasar dan makian di balik ruang tamu, si pejabat pun segera berpamitan dengan tuan rumah. Niat awalnya untuk menyampaikan undangan dari Baginda raja kepada keluarga yang akan di pilih sebagai wakil dari keluarga teladan di kerajaan itu, akhirnya di batalkan sebelum disampaikan. Sambil menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang, si pejabat kembali melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi sebuah rumah besar yang berada tak jauh dari situ.

Cerita selanjutnya…..